TAHUN PELAJARAN 2025-2026
Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling.
Penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.
Oleh karena itu, disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.
Secara visual, kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

Mekanisme penanganan siswa bermasalah
Dengan melihat gambar di atas, kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut, meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi.
Sebagai ilustrasi, misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas, sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian, siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya, diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya, misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi, keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya, keinginan untuk melanjutkan sekolah, serta hal-hal positif lainnya, meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah.
Perlu digarisbawahi, dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah, dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.
Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan bimbingan konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor).
Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya, sebagaimana tampak dalam bagan berikut :

Berikut konsekuansi yang akan diterima siswa jika melakukan pelanggaran :
| JENIS PELANGGARAN | URAIAN PELANGGARAN | KONSEKUENSI KEDISPLINAN | |
| A. PELANGGARAN RINGAN | 1 | Terlambat masuk sekolah | . Dicatat di buku terlambat diberi hukuman membersihkan lingkungan sekolah . Akumulasi 3x terlambat masuk dalam 1 bulan akan mendapatkan surat panggilan orangtua |
| 2 | Tidak memakai seragam sesuai ketentuan | . Tidak diperkenankan masuk ke lingkungan sekolah | |
| 3 | Tidak membawa ID CARD (Kartu Siswa) | . Tidak diperkenankan masuk ke lingkungan sekolah | |
| 4 | Rambut tidak sesuai aturan (depan menutupi alis, samping menutupi telinga, belakang menyentuh kerah) | . Diberi waktu 1 hari untuk potong rambut . Jika tidak dilaksanakan maka akan dilaksanakan pemotongan rambut oleh pihak sekolah | |
| 5 | Siswi tidak menggunakan ciput kerudung | . Harus ditutupi dengan kain/lainnya | |
| 6 | Membuang sampah sembarangan | . Wajib membersihkan area sekolah selama 3 hari | |
| 7 | Tidak mengikuti upacara bendera (terkecuali sakit) | . Melaksanakan baris berbaris, menghormati bendera, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, membaca pancasila , UUD 1945 | |
| 8 | Tidak mengikuti pembiasaan sholat dhuha | . Sholat secara mandiri dan membersihkan lingkungan sekolah | |
| 9 | Tidak mengikuti pembiasaan olahraga | . Senam pagi secara mandiri dan wajib menghapal senam anak indonesiah hebat | |
| 10 | Tidur saat pelajaran | . Guru memerintahkan membasuh muka dan duduk paling depan | |
| 11 | Ribut atau menganggu pelajaran | . Siswa mempresentasikan kembali materi yang disampaikan guru didepan kelas | |
| 12 | Main HP di jam pelajaran tanpa izin | . HP disita dan pengambilan wajib oleh orangtua | |
| 13 | Alpa 1 hari tanpa ijin | . Teguran tertulis dan walikelas wajib menginformasikan kepada orangtua | |
| 14 | Siswa Menggunakan aksesoris seperti kalung, gelang, anting | . Disita dan tidak dikembalikan | |
| 15 | Menggunakan pakaian/akseskoris identitas dari sekolah lain | . Disita dan tidak dikembalikan | |
| 16 | Menggunakan sandal di dalam kelas | . Diberi teguran dan harus mengganti dengan sepatu | |
| 17 | Menggunakan Makeup berlebihan | . dihapus saat itu juga | |
| B. PELANGGARAN SEDANG | 1 | Alpa lebih dari 3 hari berturut | . diberikan surat pemanggilan orangtua/home visit dan pemberian SP1 |
| 2 | Berbicara kasar kepada teman/guru | . Membuat surat pernyataan dan permohonan maaf lisan | |
| 3 | Merokok di lingkungan sekolah | . Pemberian SP 1 & Pemanggilan orangtua . Membersihkan toilet sekolah | |
| 4 | Merokok di luar lingkungan sekolah menggunakan seragam | . Pemberian SP 1 & Pemanggilan orangtua . Membersihkan toilet sekolah | |
| 5 | Meninggalkan jam pelajaran tanpa ijin | . Teguran lisan & membuat surat penyataan | |
| 6 | Merayakan ulang tahun secara berlebihan | . Teguran lisan & membuat surat pernyataan serta membersihkan lingkungan sekolah | |
| 7 | Keluar sekolah tanpa izin | . Teguran lisan & membuat surat pernyataan | |
| C. PELANGGARAN BERAT | 1 | Hubungan asmara di sekolah | . Pemberian SP1 & Surat Perjanjian |
| 2 | Mencuri barang milik teman/sekolah | . Pemberian SP1 & Surat Perjanjian serta mengembalikan barang | |
| 3 | Perkelahian atau kekerasan fisik | . Pemanggilan orangtua dan skorsing 3 hari | |
| 4 | Vandalisme / merusak fasilitas sekolah | . SP2 & mengganti kerusakan | |
| 5 | Menyebarkan hoaks, fitnah, atau konten negatif online | . Pemberian SP2 & mempublikasi pernyataan yang sebenarnya | |
| 6 | Melakukan pelecehan secara verbal maupun non verbal | . Pemberian SP 2 & Surat perjanjian | |
| 7 | Membuat geng, provokasi, atau intimidasi | . Pemberian SP2 & Surat perjanjian | |
| 8 | Terbukti Terlibat aksi tawuran | . Pemberian SP2 & Surat perjanjian | |
| 9 | Terbukti Mengedarkan, Membawa atau mengonsumsi narkoba/miras | . Pemberian SP3 (dikeluarkan dari sekolah) | |
| 10 | Terbukti Membawa senjata tajam dan senjata api | . Pemberian SP3 (dikeluarkan dari sekolah) | |
| 11 | Terbukti Terlibat tindak kriminal | . Pemberian SP3 (dikeluarkan dari sekolah) | |
| 12 | Terbukti Menghamili/hamil | . Pemberian SP3 (dikeluarkan dari sekolah) | |
| * Setiap Pemberian SP wajib menghadirkan orangtua | |||
| * Setiap pelanggaran yang terjadi guru wajib melaporkan ke petugas piket untuk dilakukan perekapan | |||
| * Untuk Pelanggaran Ringan penindakan dapat dilaksanakan oleh petugas khusus/ guru kelas/guru piket | |||
| * Untuk Pelanggaran Sedang penindakan dapat dilaksanakan oleh guru kelas/ guru piket / Waka / Kepala Sekolah | |||
| * Tidak diperkenankan melakukan penindakan sanksi diluar batas dan ketentuan yang berlaku | |||